Kerajaan Badung merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Pulau Bali. Berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Denpasar, kerajaan ini memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai-nilai kepahlawanan, keberanian, dan kesetiaan terhadap tanah air.
Asal-Usul Kerajaan Badung
Kerajaan Badung didirikan sekitar abad ke-17 setelah pecahnya Kerajaan Gelgel. Para bangsawan dari dinasti Gelgel menyebar ke berbagai penjuru Bali dan mendirikan kerajaan-kerajaan baru, termasuk Badung. Pusat pemerintahan Kerajaan Badung berada di Puri Pemecutan dan Puri Denpasar yang menjadi simbol kekuasaan dan keagungan raja-raja Badung.
Puri Pemecutan: Pusat Kebudayaan dan Pemerintahan
Puri Pemecutan merupakan salah satu puri utama di Kerajaan Badung yang memiliki peranan penting dalam pemerintahan dan kebudayaan. Puri ini menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan sekaligus pusat kegiatan adat dan upacara keagamaan. Hingga saat ini, Puri Pemecutan masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kerajaan Badung.
Puputan Badung, 20 September 1906
Peristiwa Puputan Badung merupakan salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah perlawanan rakyat Bali terhadap penjajahan Belanda. Pada tanggal 20 September 1906, Raja Badung beserta keluarga kerajaan dan rakyatnya memilih untuk berperang hingga titik darah penghabisan (puputan) daripada menyerah kepada pasukan kolonial Belanda.
Dengan berpakaian serba putih dan dipersenjatai keris pusaka, rakyat Badung maju menghadapi meriam dan senapan Belanda. Peristiwa ini mengguncang dunia internasional dan menjadi bukti keberanian luar biasa rakyat Bali dalam mempertahankan kehormatan dan kedaulatan tanah airnya.
Kini, peristiwa Puputan Badung diperingati setiap tahun dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga semangat juang dan cinta tanah air. Monumen Bajra Sandhi di Denpasar didirikan sebagai penghormatan terhadap para pahlawan yang gugur dalam peristiwa bersejarah ini.