Ngayah Bersama Semeton: Lebih dari Sekadar Renovasi, Ini Cara Puri Tanjungsari Pemecutan Merawat Persaudaraan

Pemecutan, Denpasar – Di tengah gempuran modernisasi yang mengikis sekat-sekat sosial, Puri Tanjungsari Pemecutan, khususnya di lingkungan Pemerajan Agung, membuktikan bahwa akar budaya gotong royong atau ngayah masih sangat menghujam kuat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (17/05) ini tidak hanya fokus pada target fisik, tetapi menjadi momentum emas untuk mempererat tali persaudaraan atau pesemetonan.

Pagi itu, suasana Pemerajan Agung puri sudah riuh. Puluhan semeton—baik para ajik-ajik, Ibu, hingga yowana—berkumpul dengan penuh semangat. Semangat ini terlihat jelas sejak awal kegiatan, sebagaimana terdokumentasikan dalam foto, di mana semeton lanang dan istri dengan pakaian adat madya serta seragam hijau Puri Tanjungsari berkerumun, mendengarkan pengarahan sebelum aksi dimulai. Dokumentasi ini menangkap esensi persatuan awal yang menjadi modal utama kegiatan.

Membedah Bale Banten, Mempererat Ikatan

Agenda utama gotong royong kali ini adalah membongkar Bale Banten di Pemerajan Agung yang sudah lapuk dimakan usia. Bangunan suci yang menjadi tempat penataan banten saat upacara besar ini akan segera direnovasi total agar representatif dan kokoh kembali.

Pembongkaran ini bukanlah tugas ringan. Dibutuhkan tenaga, kehati-hatian, dan kerja sama tim yang solid. Semangat ngayah yang membara terlihat dari bagaimana semeton lanang berbagi tugas. Sebagian naik ke atap untuk membuka genteng, sebagian di bawah menerima dan memindahkan bahan-bahan bangunan yang masih bisa digunakan. Dalam foto memberikan gambaran dinamis tentang proses ini. Terlihat jelas sinergi antar semeton di atas atap dan di bawah, semua bekerja tanpa pamrih, disatukan oleh satu niat luhur: memugar tempat suci.

Semeton Agung Lanang Tanjung berkumpul saat ngayah di Pemerajan Agung Puri Tanjungsari Pemecutan

Melalui kerja fisik bersama ini, ego personal luluh. Yang ada hanya identitas sebagai “Semeton Puri Tanjungsari”. Canda tawa yang terselip di sela-sela peluh menjadi perekat persaudaraan yang tak ternilai harganya. Melalui gotong royong, komunikasi yang mungkin jarang terjadi sehari-hari, kembali terjalin erat.

Ngelawar: Harmoni dalam Cita Rasa dan Kebersamaan

Gotong royong di Puri Tanjungsari Pemecutan tidak berhenti pada urusan fisik bangunan. Sejak pagi, tim ngelawar pun sudah sibuk. Ngelawar, kegiatan membuat lawar (makanan khas Bali campuran daging, sayur, dan bumbu) yang kental dengan kerja sama, adalah bagian integral dari yadnya (pengorbanan suci) dan persaudaraan.

Ngayah Bersama Semeton - Pengarahan sebelum gotong royong di Pemerajan Agung Puri Tanjungsari Pemecutan

Proses ngelawar membutuhkan banyak tangan: ada yang mencincang daging, mengiris sayur (seperti nangka atau kacang panjang), membuat bumbu, hingga mengaduk semua bahan. Harmoni kolaborasi ini terekam indah dalam foto, di mana semeton lanang duduk melingkar di atas tikar, fokus mengerjakan bagian masing-masing dengan penuh keceriaan. Foto ini adalah simbol kolaborasi harmonis.

Makna Filosofis Ngelawar

Ngelawar bukan sekadar aktivitas memasak biasa, tetapi sarat akan makna filosofis:

  1. Harmoni Warna: Lawar (khususnya lawar merah) yang mencampurkan warna daging (merah), kelapa/sayur (putih), bumbu (kuning/kecokelatan) adalah simbol Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan harmoni alam semesta.
  2. Harmoni Rasa: Lawar memadukan rasa asin, pedas, manis, pahit, dan getir menjadi satu cita rasa yang lezat. Ini adalah cerminan dari kehidupan yang penuh warna dan rasa, yang jika dikelola dengan bijak, akan menghasilkan keharmonisan.
  3. Harmoni Kerja Sama: Ngelawar adalah lambang kerukunan. Tidak ada satu orang pun yang bisa membuat lawar sendiri dalam jumlah banyak dan cepat tanpa bantuan orang lain. Ini adalah bentuk ‘Tri Hita Karana’ dalam hubungan antarmanusia (pawongan).

Puncak Kebahagiaan: Makan Bersama

Setelah peluh membasahi tubuh saat membongkar Bale Banten danlawar pun matang, puncak acara adalah makan bersama. Ini adalah momen ‘Megibung’ yang paling dinanti. Semeton duduk berdampingan, tanpa memandang status, menikmati lawar hasil keringat dan kerja sama mereka.

Makan bersama di akhir gotong royong bukan sekadar untuk kenyang, tetapi merupakan simbol penyatuan rasa, rasa syukur, dan penegasan kembali persaudaraan. Setelah berlelah-lelah bersama, berpeluh bersama, dan memasak bersama, makan bersama menjadi reward (penghargaan) spiritual yang memperdalam makna persaudaraan. Di situlah rasa persaudaraan yang mungkin tadinya biasa, menjadi persaudaraan yang hangat, solid, dan penuh makna.

Renovasi Pemerajan Agung - Hasil kerja sama ngayah semeton Puri Tanjungsari Pemecutan

Kesimpulan

Renovasi Bale Banten di Pemerajan Agung Puri Tanjungsari Pemecutan bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ini adalah proyek spiritual dan sosial. Melalui semangat ngayah, gotong royong, dan ngelawar, Puri Tanjungsari Pemecutan berhasil merawat nilai-nilai luhur leluhur, sekaligus memperkokoh fondasi persaudaraan antar semeton. Tempat suci kini sedang dibangun, dan pada saat yang sama, istana persaudaraan di hati setiap semeton pun semakin megah dan kokoh. Puri Tanjungsari Pemecutan, Jaya!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

🪷
?
Scroll to Top