Oleh: AA Aji Mangku
Memberi dan menerima sesungguhnya adalah proses menciptakan keseimbangan energi. Energi yang seimbang inilah yang akan menghubungkan diri kita dengan energi alam semesta, yaitu Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).

Perayaan Tumpek Krulut telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak zaman dahulu—sebagaimana tercatat pada Prasasti Bebetin tahun 896 Masehi—dan memiliki akar yang sangat mendalam dalam tradisi Hindu Bali. Pesan utama dari peringatan suci ini adalah keselarasan, kesetaraan, dan keseimbangan, yang berfungsi sebagai perekat harmonisasi antara Buana Alit (diri manusia/mikrokosmos) dengan Buana Agung (alam semesta/makrokosmos).
Hari suci ini hadir membawa getaran dan vibrasi keindahan (Sundaram), mengetuk kesadaran manusia agar berhenti sejenak dan mendengarkan suara batinnya sendiri. Tumpek Krulut menjadi cerminan bertemunya (Lulut) nilai sakral antara kasih sayang dan cahaya kesadaran Ilahi.
Dalam naskah suci Lontar Sundarigama disebutkan:
“Tumpek Krulut punika Sang Hyang Iswara mapan ring gamelan, gong, tabuh-tabuhan miwah pratima Ida Bhatara, punika pinaka angayunin rasa suci tresna ring sasabran jagat.”
Artinya:
Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan batin dan merawat keindahan jiwa. Hari suci ini dipersembahkan kepada Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan.
Hakikat Tumpek Krulut tidak berhenti pada vibrasi alunan gamelan, kidung, atau simbol-simbol seni semata. Ia adalah ajakan spiritual untuk menenangkan kebisingan batin yang selama ini menumpuk akibat amarah, luka hati, kekhawatiran, kekecewaan, hingga hiruk-pikuk dunia digital.
Secara spiritual, Tumpek Krulut berkaitan erat dengan proses penyembuhan (healing) dan pemurnian emosi. Konsepnya sederhana namun penuh makna: menguji kemampuan manusia dalam memahami dan mengendalikan Sapta Timira—tujuh kegelapan diri yang selalu mengikuti ritme kehidupan.
Kegelapan dalam diri ini harus diterangi oleh spirit, kesadaran, dan kecerdasan. Dengan demikian, Tumpek Krulut adalah wahana penyatuan antara rasa yang dilembutkan dan pikiran yang diterangi, guna mengubah dualisme kehidupan menjadi harmoni yang seimbang.
Kasih sayang dalam ajaran Hindu bukanlah perilaku sesaat, melainkan laku hidup (sadhana spiritual) yang patut ditumbuhkembangkan secara konsisten. Pustaka suci Bhagavadgītā menegaskan bahwa kualitas utama seorang manusia terletak pada welas asihnya:
adveṣṭā sarva-bhūtānāṁ maitraḥ karuṇa eva cha
nirmamo nirahaṅkāraḥ sama-duḥkha-sukhaḥ kṣamī
santuṣṭaḥ satataṁ yogī yatātmā dṛḍha-niśchayaḥ
mayy arpita-mano-buddhir yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ(Bhagavadgītā XII. 13–14)
Artinya:
“Ia yang tidak membenci siapa pun, bersahabat, penuh kasih sayang dan welas asih, bebas dari rasa kepemilikan dan keangkuhan, seimbang dalam suka dan duka, serta pemaaf… Dialah yang sangat Kucintai.”
Berkesenian merupakan bagian dari ibadah untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui seni, manusia belajar menyelaraskan dirinya dengan gerak kosmis dan kehadiran kekuatan Hyang Maha Suci (Taksu).
Suara gamelan melambangkan keindahan kasih sayang dan proses harmonisasi alam. Penghormatan pada instrumen gamelan bukanlah bentuk penyembahan terhadap benda mati, melainkan pemujaan kepada manifestasi Ketuhanan (Dewa Iswara) yang bersemayam di dalamnya.
Dari aktivitas berkesenian gamelan, kita dapat memetik filosofi kebersamaan yang sangat tinggi: apabila hanya satu perangkat saja yang ditabuh atau terdapat nada yang sumbang, maka harmonisasi yang indah tidak akan pernah tercipta. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, keharmonisan hanya bisa terwujud melalui kerja sama dan rasa saling melengkapi.
Melalui Perayaan Tumpek Krulut, mari kita panjatkan rasa syukur kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Iswara, yang telah menganugerahkan cinta kasih dan welas asih sebagai wahana pembersihan diri, dengan seni sebagai perantaranya.
Rahayu.