Denpasar, 29 Juli 2026 – Suasana khusyuk dan penuh kesucian menyelimuti kawasan Merajan Agung Puri Tanjung Sari Pemecutan (PTSP) pada Rabu pagi. Berdasarkan hasil kesepakatan Parum keluarga pada 12 Juli 2026 lalu, keluarga besar Semeton Agung Penyungsung kembali berkumpul dan menyatukan niat untuk melaksanakan Upacara Nuntun. Prosesi sakral ini menjadi tahapan awal yang sangat penting sebelum dimulainya perapian fisik atau ngemecikan kekereb pelinggih di Merajan Agung.
Demi menjaga kesucian dan keterikatan spiritual selama proses perbaikan atap serta sarana pelinggih berlangsung, roh suci para leluhur (Dewahyang) dinuntun dan dipindahkan sementara waktu ke persemayaman sementara di Palinggih Pengganti atau Sanggah Darurat. Di bawah semangat agung “Nangun Kasukertan PTSP”, rangkaian kegiatan ini menjadi pilar penguat yang memadukan nilai-nilai agama, keluhuran budaya, kehangatan kekeluargaan, serta penghormatan mendalam pada jejak sejarah Trah Pemecutan.

Puri Tanjung Sari Pemecutan secara historis merupakan bagian tak terpisahkan dari garis keturunan dan perluasan Puri Agung Pemecutan, salah satu pusat Kerajaan Badung yang didirikan sekitar tahun 1660 M oleh Kyai Gede Raka (Kyai Jambe Pole), keturunan Arya Kenceng. Bagi keluarga besar, menjadi bagian dari penyungsung Merajan Agung bukanlah sekadar beban tradisi, melainkan sebuah warisan kehormatan yang sarat akan berkah. Merajan Agung berdiri teguh sebagai stana suci yang senantiasa mengingatkan keturunannya dari mana darah, taksu, dan “Wit” atau asal-usul garis keturunan berasal, agar generasi hari ini tak pernah kehilangan arah dan identitas diri.
Dalam tatanan kehidupan beragama masyarakat Hindu Bali, setiap perapian tempat suci secara fisik wajib dilandasi oleh tata cara spiritual (niskala). Upacara Nuntun ini hadir sebagai wujud Srada dan Bhakti untuk memohon izin (nunas lugra) serta menuntun roh suci leluhur. Dipimpin oleh pemangku dan sulinggih sejak pukul 09.00 WITA hingga usai, prosesi persembahyangan berlangsung hening diiringi kepulan asap dupa dan alunan mantra suci. Hal ini menegaskan filosofi luhur bahwa setiap perbaikan sarana fisik (skala) senantiasa diawali dengan penghormatan spiritual demi menjaga kesucian kekereb pelinggih dan seluruh kawasan Merajan.

Tak hanya aspek spiritual, setiap detail tahapan prosesi mulai dari penataan upakara (banten), penggunaan busana adat kepura, hingga pembagian tugas (among-amongan) masing-masing pelinggih merefleksikan sistem tata kelola luhur yang telah dirancang oleh para leluhur Puri Pemecutan secara turun-temurun. Tradisi adiluhung ini terus dijaga keasliannya sebagai wujud etika, estetika, dan komitmen para semeton puri dalam mengawal kearifan lokal Bali di tengah derasnya arus modernisasi.

Momentum penataan dan perapian Merajan Agung ini pun menjadi wahana utama untuk mempererat, menyelaraskan, serta menyalakan terus semangat masikian (persatuan) di antara keluarga besar Puri Tanjung Sari Pemecutan. Melalui pijakan filosofi Paras Paros Sarpanayasaling menghargai dan menyayangi serta Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka, seluruh Semeton Agung Penyungsung baik generasi tua maupun muda hadir saling bahu-membahu dan ngayah nyarengin parikrama. Kebersamaan ini membuktikan bahwa pondasi kekeluargaan PTSP tetap tangguh, bercahaya, dan tak tergoyahkan oleh zaman.
Rangkaian Upacara Nuntun di Merajan Agung Puri Tanjung Sari Pemecutan pun menjadi penanda awal dimulainya pembenahan pelinggih yang dilandasi rasa bakti, kesadaran sejarah, dan persatuan keluarga. Semoga seluruh proses penataan pelinggih berjalan dengan lancar serta senantiasa melimpahkan asung kertha wara nugraharahmat, kedamaian, dan keselamatan bagi seluruh keluarga besar Puri Tanjung Sari Pemecutan. Om Svaha.