Pustaka Puja & Kidung
Panduan suci sembahyang, Puja Trisandya, Kramaning Sembah, dan Kidung Yadnya bagi Semeton Puri Tanjung Sari Pemecutan.
ᬑᬁᬰ᭄ᬭᬷᬕᬸᬭᬸᬪ᭄ᬬᭀᬦᬫᬄ᭞᭞
Puja Trisandya (Bait I s/d VI)
Dilaksanakan tiga kali sehari: pagi hari saat fajar merekah (06:00 WITA), tengah hari saat matahari tepat di atas kepala (12:00 WITA), dan sore hari menjelang senja (18:00 WITA). Diawali dengan sikap Asana, Pranayama, dan Karasodhana.
Lantunan Suci Puja Trisandya (Bait I - VI)
Panduan irama & pelafalan mantram suci tiga kali sehari
"Ya Tuhan, Penguasa ketiga alam semesta (Bhur / alam fisik, Bhuwah / alam antara, Swah / alam sorga). Engkaulah sumber segala cahaya yang maha suci dan maha mulia. Hamba memusatkan cipta pada kemuliaan cahaya suci-Mu, semoga Engkau senantiasa menerangi dan membimbing kecerdasan budi pekerti serta pikiran kami ke jalan kebajikan."
"Ya Tuhan, Narayana adalah hakikat dari segala wujud yang ada di alam semesta ini, baik yang telah lalu maupun yang akan datang di masa depan. Engkau Maha Murni tanpa noda, tanpa cela, tidak terikat oleh ruang dan waktu, tiada berwujud fana, Maha Suci. Hanya Engkaulah Sang Hyang Narayana Yang Maha Esa, tiada Tuhan yang kedua bagi-Mu."
"Ya Tuhan, Engkau dipuja sebagai Siwa, Mahadewa, Iswara, dan Parameswara. Engkau adalah Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Rudra (Sang Pelebur). Engkaulah Purusa—jiwa agung alam semesta yang maha termasyhur dan maha suci."
"Ya Tuhan, Engkaulah hakikat dari Catur Veda: Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda. Engkau meresap dan melingkupi segala aksara suci di jagat raya. Engkaulah Dewa dari segala Dewa yang memiliki wibawa dan keagungan yang tiada tara."
"Ya Tuhan Yang Maha Agung (Mahadewa), Engkau yang senantiasa mengasihi dan menghendaki keselamatan serta kebahagiaan seluruh makhluk ciptaan-Mu. Ampunilah segala dosa dan kekhilafan hamba. Bebaskanlah hamba dari belenggu segala papa dan noda keduniawian, dan lindungilah hamba senantiasa, ya Hyang Sadasiwa."
"Ya Tuhan, ampunilah segala dosa yang terbuat dari laku jasmani hamba (kayika). Ampunilah segala kekhilafan yang terucap dari tutur kata hamba (wacika). Ampunilah segala noda yang timbul dalam pikiran hamba (manacika). Ampunilah hamba dari segala kelalaian dan ketidaktahuan. Ya Tuhan, semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai senantiasa di alam semesta."
Kramaning Sembah (Panca Sembah)
Tata urutan 5 sembahyang pokok persembahyangan bersama semeton di Pura Pemerajan Agung maupun pura kahyangan. Disertai petunjuk sarana bunga dan mantram suci persembahyangan.
Tuntunan Suci Kramaning Sembah (Panca Sembah)
Panduan bait persembahyangan bersama semeton puri
"Ya Tuhan, Engkaulah hakikat Atma yang sejati dan suci murni, sucikanlah jiwa dan batin hamba dari segala pengaruh noda keduniawian."
"Ya Tuhan, Engkau yang berwujud Surya pemancar sinar suci yang maha gilang-gemilang. Cahaya merah cemerlang, sembah sujud hamba haturkan kepada-Mu. Engkau yang bersthana di tengah-tengah teratai putih suci, sembah sujud hamba kepada-Mu Sang Penerang segenap alam semesta."
"Ya Tuhan, sembah sujud hamba haturkan ke hadapan-Mu yang bersthana di tempat yang maha suci dan mulia. Hyang Siwa yang meresapi seluruh penjuru alam semesta. Engkau yang bersemayam teguh di atas singgasana Padmasana teratai suci, sembah sujud kami kepada-Mu dalam wujud Ardhanareswari (penyatuan suci kekuatan Purusa dan Pradhana)."
"Ya Tuhan, anugerah-Mu sungguh maha indah dan memikat jiwa, anugerah suci yang Engkau limpahkan kepada hamba yang sujud memuja-Mu. Ya Dewi Maha Damai dan Maha Suci, limpahan karunia-Mu melenyapkan segala penyakit, membinasakan segala rintangan dan mara bahaya, serta membebaskan jiwa kami dari segala duka derita. Semoga kemakmuran, kebahagiaan, dan kesempurnaan senantiasa menyertai kami."
"Ya Tuhan Yang Maha Gaib, Maha Halus, dan Tak Terpikirkan, sembah syukur dan sujud terima kasih hamba haturkan ke hadapan-Mu atas segala limpahan rahmat. Semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai abadi selamanya."
💧 Tata Cara Nunas Tirtha
Setelah sembahyang selesai, pemangku/jero mangku memercikkan tirtha suci:
- Diminum 3 kali: Memohon kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan (Tri Kaya Parisudha).
- Diraup ke wajah 3 kali: Menyucikan panca indera dan wajah dari noda-noda fana.
- Dibasuh di atas ubun-ubun 1 kali: Menyejukkan cakra mahkota (Sahasrara) serta menghubungkan jiwa dengan Hyang Siwa.
🌾 Tata Cara Mebija / Mawija
Bija (beras suci) adalah lambang benih-benih kemakmuran dan kebijaksanaan hidup:
- Ditempel di antara dua alis (Adnya Cakra): Simbol terbukanya mata kebijaksanaan batin (Siwa Duta).
- Ditempel di pangkal tenggorokan: Simbol kesucian sabda, tutur kata, dan rasa syukur.
- Ditelan 3 butir tanpa dikunyah: Simbol meresapnya anugerah kemakmuran dan benih keilahian ke dalam raga.
Kidung Suci Wargasari
Kidung panca yadnya sakral yang dilantunkan semeton dalam suasana hening khidmat saat menyambut kehadiran Ida Bhatara (nedunang), saat prosesi mendak tirtha, serta mengiringi persembahyangan bersama.
Lantunan Sakral Kidung Wargasari (Bait I - IV)
Pengiring prosesi nedunang Ida Bhatara & mendak tirtha suci
"Permulaan gubahan kidung puji-pujian yang indah di tengah sunyinya pegunungan, bertepatan dengan datangnya musim keempat (sasih kapat). Ditiup oleh hembusan angin sejuk berteteskan embun suci, tempat bersemayamnya intisari bunga-bunga sari yang memancarkan keharuman semerbak mewangi, melingkari perhiasan mustika permata manik."
"Wahai Ida Sang Hyang Widhi dan para Leluhur yang bersemayam di alam luhur, kami para pratisentana memohon izin dan anugerah-Mu. Semoga kami tiada ragu dan canggung dalam menyatukan batin memuja Bhatara saat ini. Kami telah menghaturkan sarana upakara pejati, canang suci, dan daksina, segenap tata saji persembahan telah selesai kami siapkan dengan tulus ikhlas."
"Asap dupa kemenyan dan kayu majagau, serbuk cendana harum telah berpadu. Bunga cempaka mekar semerbak mewangi memenuhi ruang suci persembahyangan. Kami haturkan kehadapan Ida Bhatara, kami memohon sudi kiranya rawuh turun dari alam luhur, melimpahkan tuntunan sinar kesucian dan kedamaian bagi kami sekeluarga."
Sikap & Persiapan Sembahyang (Purwaka)
Tahapan pendahuluan sebelum memulai Puja Trisandya atau Panca Sembah demi menyelaraskan raga, nafas, dan kesucian tangan.
Duduk tegak, punggung lurus, tangan diletakkan di atas paha dengan rileks, pusatkan pandangan ke ujung hidung.
"Ya Tuhan, dalam wujud Siwa yang suci tanpa noda, semoga raga dan jiwa hamba berada dalam ketenangan yang sempurna, suci lahir dan batin menghadap-Mu."
Om Aṅ namaḥ
(Membayangkan energi penciptaan Dewa Brahma yang bersih dan hangat mengalir masuk).
Om Uṅ namaḥ
(Membayangkan energi ketenangan Dewa Wisnu memelihara kestabilan jiwa).
Om Maṅ namaḥ
(Membayangkan energi pemurnian Dewa Iswara/Siwa melebur segala kotoran batin keluar).
Om śuddha mām svāhā
(Ya Tuhan, bersihkanlah tangan kanan hamba dari segala cela perbuatan).
Om ati śuddha mām svāhā
(Ya Tuhan, sucikanlah tangan kiri hamba menjadi sangat suci murni).