Pustaka Suci Weda & Dharma

Khazanah ajaran suci Bhagavad Gita, Sarasamuccaya, dan susastra spiritual Hindu Bali sebagai pelita dharma bagi Semeton Puri Tanjung Sari Pemecutan.

ᬯᬾᬤᬯᬵᬓ᭄ᬬᬥᬃᬫᬰᬵᬲ᭄ᬢ᭄ᬭ᭞᭞

🪷

Tanya Sari tentang Ajaran Weda & Dharma

Asisten virtual Puri siap membantu semeton memahami makna sloka, karma phala, dan refleksi hidup. Klik pertanyaan di bawah untuk bertanya langsung:

Contoh Pertanyaan Cepat:
🔍
Bhagavad Gita Adhyaya 2, Sloka 47 Karma & Tindakan

"karmaṇy evādhikāras te mā phaleṣu kadācana,
mā karma-phala-hetur bhūr mā te saṅgo 'stv akarmaṇi"

Terjemahan Resmi:

"Hanya pada pekerjaanlah engkau berhak, jangan sekali-kali pada pahalanya (hasilnya). Janganlah motifmu berbuat semata-mata karena pahala, dan jangan pula terikat pada ketidak-berdayaan (kemalasan bertindak)."

Intisari Spiritual (Karma Yoga):

Lakukan setiap kewajiban, karya, dan pengabdian hidup dengan ikhlas dan kualitas terbaik. Lepaskan rasa cemas berlebih terhadap hasil akhir, sebab hasil adalah wewenang Hyang Widhi.

Bhagavad Gita Adhyaya 2, Sloka 14 Ketenangan Pikiran

"mātrā-sparśās tu kaunteya śītoṣṇa-sukha-duḥkha-dāḥ,
āgamāpāyino 'nityās tāṁs titikṣasva bhārata"

Terjemahan Resmi:

"Sentuhan antara indra dengan obyeknya, wahai Arjuna, menimbulkan rasa dingin dan panas, suka dan duka. Semua itu datang dan pergi silih berganti, tidak kekal. Karena itu, tabahlah menghadapinya."

Intisari Spiritual (Titiksa):

Segala pasang surut emosi, pujian dan celaan, keberhasilan dan kegagalan adalah sifat alami dunia yang fana. Orang bijaksana melatih batin agar tidak mudah goyah di kala duka maupun jemawa di kala suka.

Bhagavad Gita Adhyaya 2, Sloka 20 Jiwa (Atman)

"na jāyate mriyate vā kadācin nāyaṁ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ,
ajo nityaḥ śāśvato 'yaṁ purāṇo na hanyate hanyamāne śarīre"

Terjemahan Resmi:

"Atman (jiwa) tidak pernah lahir dan tidak pernah mati pada waktu kapan pun; ia tidak berawal dan tidak akan berakhir. Ia abadi, kekal, dan ada sejak dahulu kala. Ia tidak terbunuh tatkala badan jasmani ini hancur."

Intisari Spiritual:

Tubuh fisik hanyalah wadah sementara bagi sang jiwa suci. Kesadaran akan keabadian Atman melenyapkan rasa takut akan kematian dan menumbuhkan kasih sayang universal bagi seluruh makhluk hidup.

Bhagavad Gita Adhyaya 2, Sloka 62 - 63 Ketenangan Pikiran

"dhyāyato viṣayān puṁsaḥ saṅgas teṣūpajāyate, saṅgāt sañjāyate kāmaḥ kāmāt krodho 'bhijāyate.
krodhād bhavati sammohaḥ sammohāt smṛti-vibhramaḥ, smṛti-bhraṁśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praṇaśyati"

Terjemahan Resmi:

"Dari keterikatan pada benda indrawi lahirlah nafsu keinginan; dari nafsu keinginan lahirlah amarah. Dari amarah timbul kebingungan akal; dari kebingungan hilanglah ingatan nurani; dari hilangnya nurani hancurlah akal budi, dan dari hancurnya akal budi manusia akan binasa."

Intisari Spiritual:

Inilah rantai psikologis kehancuran batin. Ketika amarah dan nafsu dibiarkan mengendalikan diri, manusia kehilangan akal budi jernih (*wiweka*) dan dapat merusak masa depan dirinya serta keluarganya.

Bhagavad Gita Adhyaya 4, Sloka 7 - 8 Karma & Tindakan

"yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmy aham.
paritrāṇāya sādhūnāṁ vināśāya ca duṣkṛtām, dharma-saṁsthāpanārthāya sambhavāmi yuge yuge"

Terjemahan Resmi:

"Manakala kebenaran (dharma) merosot dan kejahatan (adharma) merajalela, wahai Arjuna, pada saat itulah Aku mewujudkan diri-Ku ke dunia. Untuk melindungi orang-orang bajik, menumpas kejahatan, dan menegakkan kembali dharma, Aku menjelma dari zaman ke zaman."

Intisari Spiritual:

Kebenaran pada akhirnya akan selalu menang (*Satyam Eva Jayate*). Setiap manusia yang berjuang menegakkan dharma dan keluhuran budi senantiasa mendapat naungan dan perlindungan Hyang Widhi Wasa.

Bhagavad Gita Adhyaya 6, Sloka 5 Ketenangan Pikiran

"uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet,
ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ"

Terjemahan Resmi:

"Hendaklah seseorang mengangkat martabat dirinya dengan pikirannya sendiri, janganlah merendahkan dirinya; sebab pikiran itu sesungguhnya adalah kawan bagi diri sendiri, dan pikiran itu pula musuh bagi diri sendiri."

Intisari Spiritual:

Pikiran yang terkendali adalah sahabat terbaik yang menuntun manusia pada kedamaian. Sebaliknya, pikiran liar yang tidak terlatih adalah musuh paling berbahaya yang ada di dalam diri sendiri.

Bhagavad Gita Adhyaya 9, Sloka 26 Bakti & Doa

"patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ yo me bhaktyā prayacchati,
tad ahaṁ bhakty-upahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ"

Terjemahan Resmi:

"Siapa pun yang mempersembahkan kepada-Ku selembar daun, sekuntum bunga, sebiji buah, atau seteguk air dengan rasa bakti, persembahan yang dilandasi ketulusan hati itu Aku terima dengan penuh suka cita."

Intisari Spiritual:

Hakikat yadnya dan persembahan suci di hadapan Hyang Widhi bukanlah dinilai dari kemewahan atau besarnya biaya upakara, melainkan dari kemurnian bakti dan keikhlasan hati yang mempersembahkannya.

Sarasamuccaya Sloka 2 Budi Pekerti

"Mānuṣaḥ sarvabhūteṣu vartate vai śubhāśubhe,
aśubheṣu samāviṣṭaṁ śubheṣv evāvakārayet"

Alih Bahasa Jawa Kuno & Indonesia:

"Di antara semua makhluk hidup yang bernyawa, hanya yang menjelma menjadi manusialah yang dapat berbuat baik atau buruk. Oleh karena itu, hindarilah perbuatan yang buruk (asubha karma) dan laksanakanlah senantiasa perbuatan yang bajik (subha karma)."

Intisari Spiritual:

Hanya manusia yang dianugerahi *Tri Premana* (Bayu, Sabda, Idep) dan daya pembeda (*Wiweka*). Kehidupan ini adalah sarana belajar untuk memperbaiki karma masa lalu melalui kebajikan.

Sarasamuccaya Sloka 4 Jiwa (Atman)

"Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika."

Alih Bahasa Jawa Kuno & Indonesia:

"Sebab kelahiran menjadi manusia adalah sangat utama. Mengapa demikian? Karena manusia berkuasa menolong dirinya sendiri dari lautan penderitaan (samsara) dengan jalan berbuat kebajikan (subha karma). Itulah keutamaan utama menjadi manusia."

Intisari Spiritual:

Jangan menyia-nyiakan kesempatan hidup sebagai manusia. Kesempatan ini langka dan berharga, gunakanlah waktu yang ada untuk mengumpulkan bekal spiritual demi pembebasan jiwa (*moksha*).

Sarasamuccaya Sloka 73 Ketenangan Pikiran

"Krodha, lobha, moha, ika ta telu musuh sang hyang ātma, yapwan ika kalinangan dening wwang, manggih ta ya sukha tan patinggalan."

Alih Bahasa Jawa Kuno & Indonesia:

"Kemarahan (krodha), ketamakan (lobha), dan kegelapan pikiran (moha), itulah tiga musuh utama sang jiwa. Bila ketiganya berhasil dikendalikan oleh manusia, niscaya ia akan memperoleh kebahagiaan sejati yang tiada henti."

Intisari Spiritual:

Kemenangan sejati seorang ksatria dan manusia dharma bukanlah mengalahkan musuh di medan perang luar, melainkan menundukkan musuh-musuh batin (*Sad Ripu*) di dalam kalbu sendiri.

Sarasamuccaya Sloka 160 Budi Pekerti

"Satyaṁ brūyāt priyaṁ brūyāt, na brūyāt satyam apriyam,
priyaṁ ca nānṛtaṁ brūyāt, eṣa dharmaḥ sanātanaḥ"

Alih Bahasa Jawa Kuno & Indonesia:

"Katakanlah kebenaran (satya), katakanlah yang menyejukkan hati (priya). Janganlah mengatakan kebenaran dengan cara kasar yang melukai hati sesama, dan jangan pula mengatakan kebohongan walau manis didengar. Demikianlah hukum kebenaran abadi (sanatana dharma)."

Intisari Spiritual (Wacika Parisudha):

Kearifan tutur kata adalah mahkota kepribadian. Dalam falsafah hidup *Menyama Braya*, kata-kata yang sejuk, jujur, dan mendamaikan mempererat persaudaraan semeton dan menjaga keharmonisan jagat.

Sarasamuccaya Sloka 239 Bakti & Doa

"Guru śuśrūṣayā caiva, pitroś ca paricaraṇāt,
etad dhi paramaṁ dharmam, sarvadharmeṣu kathyate"

Alih Bahasa Jawa Kuno & Indonesia:

"Berbakti mendengarkan petunjuk guru suci dan merawat kedua orang tua dengan penuh hormat, sesungguhnya itulah perbuatan dharma yang paling utama di antara segala kebajikan di dunia ini."

Intisari Spiritual (Bakti Luhur):

Pintu berkah, ketenteraman hidup, dan anugerah leluhur terbuka lebar bagi anak cucu yang senantiasa berbakti, memuliakan, dan menjaga nama baik orang tua serta para leluhur.

📖

Kitab Suci Bhagavad Gita Lengkap

Edisi Lengkap 944 Halaman • 18 Adhyaya (700 Sloka)

Naskah lengkap terjemahan resmi Bhagavad Gita dengan transliterasi Sansekerta, makna per kata, dan tafsir filosofis kehidupan.

📥 Unduh Langsung PDF (4.1 MB)
📜

Kitab Suci Sarasamuccaya

Karya Bhagawan Wararuci • Pustaka Suci Digital Puri

Kompilasi sloka utama etika dharma karya Bhagawan Wararuci yang menjadi suluh penuntun perilaku umat Hindu di Bali.

📥 Unduh Langsung PDF
🕉️

Weda Parikrama & Puja Mantra

Panduan Ibadah Resmi • Puri Tanjung Sari Pemecutan

Pedoman doa harian, Tri Sandhya, Panca Sembah (Kramaning Sembah), dan mantram suci dalam pelaksanaan panca yadnya.

📥 Unduh Langsung PDF
🪷

Slokantara (Untaian Etika Budi Luhur)

Pustaka Sastra Hindu Bali • Niti Sastra Kepemimpinan

Ajaran moralitas, kepemimpinan (Niti Sastra), dan kesucian hidup yang diwariskan para leluhur suci Bali.

📥 Unduh Langsung PDF

Sloka Tidak Ditemukan

Tidak ada sloka yang cocok dengan pencarian kata kunci tersebut. Coba gunakan kata kunci lain atau tanyakan langsung kepada Sari di pojok kanan bawah.

🪷
?
Scroll to Top