Pagerwesi sebagai Kontemplasi Komitmen Kuat terhadap Dharma

Pagerwesi sebagai Kontemplasi Komitmen Kuat terhadap Dharma

Dalam kalender wuku Bali, rangkaian hari suci yang diawali dari perayaan turunnya ilmu pengetahuan pada Hari Raya Saraswati mencapai titik penguncian dan peneguhan spiritualnya pada Hari Raya Pagerwesi. Dirayakan pada hari suci Buda Kliwon Wuku Sinta, Pagerwesi bukan sekadar upacara seremonial berkala, melainkan momen kontemplasi agung bagi umat Hindu untuk membangun benteng pertahanan rohani serta meneguhkan komitmen tanpa syarat terhadap jalan Dharma.

Secara etimologi, kata Pagerwesi tersusun dari dua kata: Pager yang bermakna pagar atau benteng perlindungan, dan Wesi yang melambangkan besi atau baja yang kokoh tak tergoyahkan. Pagar besi ini tentu bukanlah konstruksi material atau benteng fisik di alam fana, melainkan perisai spiritual di dalam sanubari manusia yang dibangun kokoh melalui perpaduan harmonis antara iman (Sradha), pengetahuan suci (Widya), dan budi pekerti luhur (Dharma).

Filosofi “Wesi”: Menundukkan Musuh Terbesar Awidya

Di dalam terminologi spiritual dan esoteris Hindu, kata “Wesi” melambangkan keteguhan jiwa yang memiliki daya tolak luar biasa, sehingga tidak mudah ditundukkan oleh musuh terbesar yang bersemayam di dalam diri manusia, yakni Awidya (kegelapan batin, ketidaktahuan rohani, dan ilusi kesesatan).

Manusia kerap kali rentan terseret ke dalam arus keserakahan (Lobha), kemarahan (Krodha), dan kebingungan (Moha) yang ditimbulkan oleh gemerlapnya dunia material. Tanpa benteng Wesi di dalam batin, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh tipu daya hawa nafsu dan gejolak ego (Ahamkara). Melalui Pagerwesi, jiwa manusia diselimuti baju zirah spiritual agar tetap tegak, kokoh, dan berdaulat dalam memegang teguh prinsip-prinsip kebajikan.

Benang Merah Saraswati dan Pagerwesi: Menjaga Api Suci Ilmu Pengetahuan

Hari Raya Pagerwesi memiliki keterikatan filosofis yang sangat erat dan merupakan kelanjutan tak terpisahkan dari Hari Raya Saraswati. Apabila pada hari Saraswati (Saniscara Umanis Watugunung) umat manusia dianugerahi kesucian ilmu pengetahuan (Sang Hyang Aji Saraswati), kemudian disucikan melalui Banyu Pinaruh, ditata kemakmurannya pada Soma Ribek, dan disyukuri anugerah kekayaannya pada Sabuh Mas, maka pada Buda Kliwon Sinta sampailah pada puncaknya: memagari ilmu pengetahuan tersebut.

Ilmu pengetahuan suci (Widya) yang telah diperoleh hendaknya tidak hanya disimpan sebagai wacana teoritis di kepala, apalagi sekadar dijadikan alat kebanggaan intelektual semu. Pengetahuan itu wajib dijaga kemurniannya, dipahami secara mendalam (Jnana), dan diimplementasikan secara konkret dalam laku hidup keseharian.

Dengan ilmu yang dilandasi oleh iman (Sradha), seorang manusia dianugerahi lentera kebijaksanaan (Wiweka)—sebuah kepekaan rohani untuk memilah secara jernih dan tegas mana perbuatan yang membawa pada keselamatan (Subha Karma) dan mana yang menjerumuskan ke dalam penderitaan (Asubha Karma).

Landasan Sastra Suci dalam Lontar Sundarigama

Keagungan dan landasan teologis Hari Raya Pagerwesi tersurat secara gamblang dalam naskah kuno Lontar Sundarigama (salinan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, halaman 23):

“Buda Kliwon ngaran Pagerwesi, Sanghyang Pramesti Guru mayoga, iniring watek Dewata Nawa Sanga, ngewerdiakna urip ing sarwa tumitah, tumuwuh ring bwana kabeh, irika wenang Sang Purohita mangarga puja saparikrama pasang lingga ngarcana ri paduka Bhatara Sanghyang Prameswara…”

Artinya: “Hari Rabu Kliwon dinamakan Pagerwesi, saat Sang Hyang Pramesti Guru melaksanakan yoga samadhi, diiringi oleh segenap Dewata Nawa Sanga, demi menumbuhkembangkan dan melestarikan kehidupan seluruh makhluk yang bernafas serta segala yang tumbuh di alam semesta ini. Pada saat itulah patut Sang Purohita (rohaniwan suci) menghaturkan pemujaan menurut tata upakara yang semestinya, mendirikan lingga untuk memuja paduka Bhatara Sang Hyang Prameswara (Siwa Guru)…”

Teks sastra suci ini menegaskan bahwa Pagerwesi adalah hari suci pemuliaan ke hadapan Sang Hyang Pramesti Guru—manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam wujud Dewa Siwa sebagai Guru Sejati atau penuntun spiritual alam semesta. Beliau beryoga demi menjamin kelangsungan, kesuburan, dan kesejahteraan kosmis (ngewerdiakna urip) bagi seluruh ciptaan di jagat raya.

Sebagai umat beragama, sudah sepatutnya kita menghaturkan Yadnya, mempersembahkan wujud sujud Sradha lan Bhakti, serta menegakkan ketaatan mutlak terhadap ajaran agama, tuntunan tattwa, dan petunjuk luhur dari para orang bijak serta sang meraga suci (saraga sang Sadhu sireka tutana).

Memperkokoh Tri Kaya Parisudha sebagai Pilar Karakter

Pancaran kesucian ilmu pengetahuan (Widya) yang dipagari oleh kesadaran spiritual Pagerwesi menjadi energi penggerak utama bagi penyucian tiga pilar perilaku manusia, yaitu Tri Kaya Parisudha:

  • Manacika Parisudha (Berpikir yang Bersih dan Benar): Menjaga pikiran agar senantiasa hening, jernih, terbebas dari iri hati (Irsya), ketamakan, dan prasangka buruk. Pikiran adalah nahkoda dari seluruh gerak gerik kehidupan.
  • Wacika Parisudha (Berkata yang Bijak dan Menyejukkan): Berbicara jujur (Satya Semaya), santun, menyejukkan sanubari, tidak memfitnah, dan tidak menyebarkan kebencian maupun kebohongan.
  • Kayika Parisudha (Berbuat yang Nyata Sesuai Dharma): Mewujudkan kebajikan melalui tindakan riil, welas asih kepada sesama makhluk (Sarwa Prani Hitam), serta aktif menjaga keharmonisan alam semesta.

Penyelarasan ketiga aspek ini merupakan benteng terkuat dalam membangun karakter manusia yang berbudi pekerti luhur, berintegritas tinggi, dan tidak mudah terperosok ke dalam lembah kehancuran moral.

Peneguhan Komitmen Menuju Jagadhita dan Moksha

Pada akhirnya, Hari Raya Pagerwesi adalah momentum suci untuk menatap ke dalam diri (mulat sarira) dan memperbaharui janji jiwa (sankalpa). Kita diingatkan bahwa seindah apa pun pengetahuan yang kita miliki, ia akan kehilangan maknanya apabila tidak dibentengi oleh keteguhan moral dan komitmen terhadap jalan Dharma.

Dengan memagari diri menggunakan perisai ilmu suci, memperkokoh iman kepada Sang Hyang Pramesti Guru, dan konsisten mempraktikkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan mampu melintasi samudra kehidupan fana (Samsara) dengan selamat, harmonis, serta mencapai kesejahteraan lahir batin (Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma).

Rahayu.

Agung Sugiharta
Sumber & Penulis Asli: Agung Sugiharta
Disarikan dan diselaraskan dari tulisan kontemplasi keagamaan akun Facebook Agung Sugiharta mengenai esensi Hari Raya Pagerwesi sebagai komitmen teguh terhadap Dharma, diperkaya dengan rujukan teks suci Lontar Sundarigama.
Bagikan tulisan ini
← Artikel Sebelumnya Menembus Fatamorgana Kehidupan: Kontemplasi Filosofi Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran
🏛️

Puri Tanjung Sari Pemecutan

Portal Resmi Semeton Agung Lanang Tanjung — Menjaga Tradisi, Melestarikan Budaya, Mempererat Persaudaraan.

← Lihat Warta & Artikel Lainnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

🪷
?
Scroll to Top